Sudah menjadi tradisi, setiap tanggal 29 Juni kita memperingati Hari Keluarga Nasional (Harganas). Di tahun 2017 ini, yang merupakan peringatan ke-24, puncak peringatan Harganas Tingkat DIY akan digelar di Halaman Balai Kota Yogyakarta, Rabu (5/7) yang akan dihadiri Gubernur Sri Sultan Hamengkubuwono X dan GKR Hemas. Sementara di Tingkat Nasional akan dipusatkan di Bandar Lampung, Provinsi Lampung, Sabtu (15/7) yang akan dihadiri Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo. Tema yang diangkat adalah "Dengan Harganas Kita Bangun Karakter Bangsa Melalui Keluarga yang Berketahanan" sebagai wujud kepedulian kita terhadap pentingnya membangun keluarga yang berketahanan untuk mewujudkan Indonesia yang sejahtera, mandiri dan jaya.
Membangun keluarga berketahanan memang bukan pekerjaan mudah. Apalagi di era globalisasi yang penuh persaingan seperti sekarang ini, sungguh menjadi pekerjaan serius bagi setiap keluarga untuk mewujudkannya. Sulitnya mencari pekerjaan, kuatnya desakan ekonomi, mahalnya biaya pendidikan, kesehatan dan begitu kompleksnya kebutuhan hidup saat ini, menjadi persoalan tersendiri dari sekian banyak masalah yang harus diatasi oleh keluarga-keluarga saat ini, yang tentu saja menguras pikiran, tenaga dan waktu. Itulah sebabnya, untuk menjadi keluarga yang berketahanan, ada tiga syarat mutlak yang harus dipenuhi: (1) Keluarga yang bersangkutan harus didasari oleh perkawinan yang sah dan memiliki ketaqwaan kepada Tuhan YME, (2) Keluarga yang dibangun harus memiliki wawasan kedepan, bertanggungjawab dan berkomitmen tinggi untuk hidup mandiri, (3) Keluarga yang dibangun harus mampu hidup secara harmonis, memiliki jumlah anak ideal dan sejahtera. Ketiga syarat dasar tersebut harus mampu dicapai oleh sebuah keluarga untuk dapat melaksanakan 8 fungsi keluarga (keagamaan, sosial budaya, cinta kasih, perlindungan, reproduksi, sosialisasi dan pendidikan, ekonomi dan pembinaan lingkungan). Sementara kemampuan keluarga dalam menjalankan fungsi-fungsinya menjadi syarat yang harus dipenuhi agar keluarga yang bersangkutan dapat menjadi keluarga yang berketahanan.
Ada empat pendekatan yang dapat ditempuh oleh setiap keluarga agar keluarganya memiliki ketahanan yang tinggi. Pertama, Keluarga Berkumpul. Adalah kegiatan di mana seluruh anggota keluarga yang dimotori bapak dan ibu harus mampu meluangkan waktunya (walaupun sebentar) untuk berkumpul tanpa disibukkan dengan gadget, televisi dan alat elektronik lainnya. Untuk memulainya dapat diawali pada momentum hari keluarga, hari raya, akhir pekan dan hari libur lainnya. Selanjutnya keluarga berkumpul dapat menjadi agenda keluarga sehari-hari, dengan menyempatkan waktu untuk berkumpul dengan seluruh anggota keluarga sekitar 20 (dua puluh) menit per hari, misalnya waktu makan malam bersama.
Kedua, Keluarga Berinteraksi. Kegiatan di mana seluruh anggota keluarga meluangkan waktu berkumpul dan saling bercengkrama serta saling tukar pengalaman dengan komunikasi yang lebih berkualitas. Keluarga berinterakasi tidak hanya dilakukan dengan keluarga inti tetapi juga dilakukan dengan keluarga besar (sanak saudara dan kerabat) serta dengan tetangga sekitarnya misalnya pada acara arisan keluarga, reuni, pengajian dan kegiatan-kegiatan sejenisnya.
Ketiga, Keluarga Berdaya. Adalah suatu kegiatan di mana keluarga mampu memanfaatkan potensi yang dimilikinya untuk membuat diri dan keluarganya tidak tergantung pada pihak lain. Keluarga berdaya lebih mengandalkan segala potensi yang ada dalam dirinya, baik berupa ketrampilan, olah pikir dan pengetahuan sehingga mampu melakukan pengasuhan anak yang baik, melaksanakan 8 (delapan) fungsi keluarga, meningkatkan pendapatan keluarga, serta mampu mengatasi berbagai permasalahan dan tantangan hidup yang dialaminya.
Keempat, Keluarga Peduli dan Berbagi. Adalah kegiatan di mana keluarga yang mampu dan lebih beruntung mempunyai kepedulian dan keinginan untuk berbagi dan menolong orang lain. Kegiatan ini dapat diwujudkan dalam bentuk gotong-royong antar warga, perbaikan rumah, menolong tetangga yang sedang sakit, menjadi orang tua asuh serta memberikan bantuan modal usaha bagi Keluarga Pra Sejahtera.
Dengan empat pendekatan tersebut, apabila semua dapat dilaksanakan dengan baik, kita meyakini bahwa membangun keluarga berketahanan di negeri ini akan dapat diwujudkan. Tinggal bagaimana semangat dan tekad kita untuk memulainya. Dan ini harus dilakukan mulai hari ini dengan memanfaatkan momentum Harganas. Karena kita telah sama-sama sadar bahwa keluarga berketahanan menjadi kunci untuk mewujudkan Indonesia yang sejahtera, mandiri dan jaya.
Drs. Mardiya,
Kepala Bidang Pengendalian Penduduk pada Dinas PMD Dalduk dan KB Kabupaten Kulon Progo
BIODATA PENULIS
| Nama | : | Drs. Mardiya |
| Tempat / Tgl Lahir | : | KulonProgo, 20 April 1966 |
| Pekerjaan | : | PNS |
| Agama | : | Islam |
| Alamat Kantor | : | Dinas PMD Daldukdan KB |
| Jl. Sugiman, Margosari, Pengasih, KulonProgoTelp (0274) 773917 | ||
| Alamat | : | RT 19 RW 10 Karangetan, Salamrejo, Sentolo, Kulon Progo |
| Telepon/HP | : | 087738048525 |
Prestasi di BidangKaryaTulis:
- JuaraHarapan II Reportase Sungai yang diselenggarakanoleh KR tahun 1997
- Juarakaryatulistingkatnasional yang diselenggarakanoleh BKKBN (Juara I tahun 1999, Juara II Tahun 2007, Juara II Tahun 2008)
- Juara I penulisanartikel_lama KB yang diselenggarakanoleh BKKBN DIY Kerjasamadengan KR Tahun 2009
- PenulisBukuPetunjukPraktisMemilihKontrasepsi yang diterbitkanolehPenerbit Liberty Yogyakarta Tahun 2000.